Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Munasabah Antar Ayat Al Qur'an

 Munasabah Antar Ayat yang Letaknya Berdampingan


Munasabah antar ayat yang letaknya berdampingan sering terlihat dengan jelas, namun juga sering terlihat tidak jelas. Munasabah yang terlihat jelas, pada umumnya dapat diketahui bahwasanya menggunakan pola ta’kid (penguat), tafsir (penjelas), i’tiradh (bantahan), dan tasydid (penegasan).


Pola ta’kid tersebut dapat ditemukan di dalam surat Al-Fatihah ayat 1-2 “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”, “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” di dalam ayat pertama terdapat sifat Allah “Maha Pemurah” dan “Maha Penyayang” yang kemudian dikuatkan oleh ungkapan ayat berikutnya “Tuhan semesta alam”.


Pola tafsir apabila makna satu ayat atau bagian ayat tertentu ditafsirkan oleh ayat sesudahnya. Sebagaimana firman Allah di dalam surat Al-Baqarah ayat 2: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. Kata “mereka yang bertakwa” pada ayat di atas kemudian ditafsiri dengan ayat sesudahnya: “(yaitu) mereka yang beriman pada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka”.


Pola i’tiradh apabila terdapat satu kalimat atau lebih yang tidak ada kedudukannya dalam i’rab (struktur kalimat), baik di pertengahan kalimat atau di antara dua kalimat yang berhubungan dengan maknanya. Seperti di dalam surat An-Nahl: 57: “Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan, Mahasuci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki).” Kata “Mahasuci Allah” di atas merupakan bentuk i’tiradh dari dua ayat yang mengantarnya. Kata tersebut merupakan bantahan bagi klaim orang-orang kafir yang menetapkan anak perempuan bagi Allah.


pola tasydid. Yaitu apabila suatu ayat atau bagian ayat mempertegas arti ayat sebelumnya. Misal: “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus”, “yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (QS Al-Fatihah: 6-7).

Di dalam surat Al-Fatihah di atas, pada ayat keenam terdapat ungkapan “jalan yang lurus” yang kemudian ayat tersebut ditegaskan oleh ayat selanjutnya yakni “bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat”.


Sedangkan untuk munasabah antar ayat yang tidak jelas dapat dilihat melalui hubungan makna (qara’in maknawiyyah) yang terlihat dalam empat pola munasabah, yaitu perbandingan (at-tanzir), perlawanan (al-mudhadat), penjelasan lebih lanjut (istithrad), dan perpindahan (at-takhallush).


At-Tanzir yaitu membandingkan dua hal yang sebanding, menurut kebiasaan orang yang berakal. Misal: “Itu adalah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka itu akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan mendapat keampunan serta rezeki yang mulia” (QS Al-Anfal: 4). Dan ayat berikutnya adalah: “Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran (berangkat perang), padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya” (QS Al-Anfal: 5).

Dalam pembahasan ini terdapat dua keadaan yang sebanding, yaitu mereka yang mengikuti perintah Tuhannya akan mendapat imbalan sesuai dengan kerjanya. Imbalan tersebut adalah kebaikan dunia dalam bentuk materi dari harta rampasan, dan imbalan akhirat adalah pahala yang berlipat ganda serta keampunan dari pemberi perintah (Allah).


Perlawanan (Al-Mudhodat), misalnya di dalam surat Al-Baqarah ayat 6 menjelaskan tentang sifat-sifat orang kafir, sedangkan pada ayat sebelumnya menjelaskan sifat dari orang-orang mukmin.


Pola peralihan kepada penjelasan lain (Al-Istithrad). Contohnya seperti berikut ini: “Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian (nikmat) untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa (senantiasa bertakwa kepada Allah) itulah yang lebih baik” (QS Al-A’raf: 26). Ayat tersebut menjelaskan tentang nikmat Allah, sedang ditengahnya dijumpai kata “libasut taqwa” yang mengalihkan perhatian pada penjelasan ini (pakaian). Dalam hal ini, munasabah yang dapat dilihat adalah antara menutup tubuh atau aurat dengan kata-kata takwa.


Pola yang terakhir adalah peralihan (At-Takhollus). Yang dimaksudkan dengan peralihan adalah peralihan pembicaraan terus menerus dalam suatu ayat dan tidak kembali lagi pada pembicaraan pertama. Misalnya: “Apakah mereka tidak melihat bagaimana unta itu diciptakan, dan melihat kepada bagaimana langit di tinggikan”. Ayat ini mengandung pembicaraan terus menerus. Yakni mulai dari unta, langit, dan seterusnya.

Posting Komentar untuk " Munasabah Antar Ayat Al Qur'an"

Berlangganan via Email