Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

apakah bekam membatalkan puasa?

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
Bismillah
Allohumma Shalli ‘ala Muhammad, Amma ba’du
Pejelasan tentang bekam dalam ilmu medis klik di sini
Ulama fiqih sepakat mengeluarkan darah secara tidak sengaja tidak membatalkan puasa, sebagaimana darah keluar dari hidung yang dinamakan dengan epistaksis (mimisan), atau keluar di sela-sela giginya atau menggaruk kulitnya karena terpaksa hingga mengeluarkan darah, atau keluarnya darah penyakit (istihadoh) pada perempuan.
Adapun mengeluarkan darah dari tubuh dengan secara sengaja seperti berbekam, hukumnya masih diperselisihkan, karena ada redaksi hadits yang mengindikasikan bekam membatalkan dan tidak membatalkan puasa.

Dalil bekam yang membatalkan puasa
وَيُرْوَى عَنِ الْحَسَنِ عَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مَرْفُوعًا فَقَالَ أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ
Diriwayatkan dari Al Hasan dari beberapa sahabat secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Beliau bersabda “Orang yang melakukan bekam dan yang dibekam batal puasanya.” [Hadits ini juga dikeluarkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah dan Ad Darimi. Syaikh Al Albani dalam Irwa’ no. 931 mengatakan bahwa hadits ini shohih]
hadis ini dikatakan telah mencapai derajat mutawatir (sangat banyak jalur periwayatnya sehingga tidak mungkin ini adalah hadis dusta), dimana ada 12 (dua belas) Sahabat yang meriwayatkannya.
Dalil ini dipegang oleh Imam Ahmad, beliau berpendapat bahwa pembekam (yang melakukan terapi bekam) dan terbekam (yang diterapi bekam) berbuka jika nampak darah dari terbekam, dan jika keduanya -pembekam dan terbekam- sengaja dan sadar dengan puasanya.

Dalil bekam tidak membatalkan puasa
Dari seseorang, dia bercerita, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لاَيُفْطِرُ مَنْ قَاءَ أَوْ مَنِ احْتَلًمَ وَلاَ مَنِ احْتَجَمَ
Tidak batal puasa orang yang muntah atau orang yang bermimpi (basah) dan tidak juga orang yang berbekam”. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2376), Ibnu Khuzaimah (no. 1973 dan 1975). Dan sanadnya dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – احْتَجَمَ ، وَهْوَ مُحْرِمٌ وَاحْتَجَمَ وَهْوَ صَائِمٌ .
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dalam keadaan berihrom dan berpuasa.
Menurut jumhur (mayoritas ulama) yaitu Imam Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, berbekam tidaklah membatalkan puasa. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Anas bin Malik, Abu Sa’id Al Khudri dan sebagian ulama salaf.
Ulama mazhab Hanbali berpendapat berbekam membatalkan puasa, sebagaimana dalil pertama, telah ditanggapi oleh Mayoritas fuqaha’, mereka menjawab hadis yang menjadi dalil ulama mazhab Hanbali bahwa hadits tersebut hukummya dihapuskan (mansukh) oleh hadits ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Nabi SAW melakukan bekam saat ia sedang berpuasa. Hadits ibnu Abbas terjadi  dua tahun setelah hadis Syaddat bin Aus, yaitu saat Haji Wada’.

Kesimpulan
Maka pendapat yang terkuat yaitu pendapat jumhur fuqaha’ bahwa berbekam tidak membatalkan puasa, tetapi lebih baik bagi orang berpuasa menghindarinya.
Wallohu a’lam



Berlangganan via Email