Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

APAKAH AKU BISA DAPAT BEASISWA?

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
APAKAH AKU BISA DAPAT BEASISWA?
Kali ini aku ingin berbagi cerita, tentang bagaimana aku bisa mendapatkan beasiswa PascaSarjana S2 dari Kementerian Agama RI tahun 2017,
Siapa yang tak bermimpi untuk mencari ilmu setinggi-tingginya
Siapa yang tak ingin kuliah di kampus bagus
Siapa yang tak ingin mendapat beasiswa alias kuliah gratis
Aku pun seperti itu, setelah Lulus SMA, aku sangat ingin untuk kuliah di kampus yang bagus (UGM, UI, ITB, IPB, dll). Akan tetapi aku tahu, untuk masuk ke Perguruan tinggi itu tidak lah mudah. Butuh otak yang sangat cerdas. Selain itu, untuk masuk itu, membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Setelah lulus SMA, atau ketika mau lulus, aku perang batin
Di lain sisi aku ingin masuk Perguruan Tinggi Negri, tapi keluargaku tak punya biaya yang cukup.
“BEASISWA”
Yups.. tepat sekali, solusinya
TETAPI, untuk mendapatkan beasiswa bukan lah perkara mudah, minimal mempunyai 2 syarat, yaitu harus pandai di atas normal atau miskin di bawah normal.
Melihat syarat itu, aku berkecil hati. Aku dari dulu bukan termasuk anak yang paling pandai. Sedang – sedang saja, bodoh juga enggak, pandai juga tidak. Sedangkan soal ekonomi, tidak mungkin kan? Aku harus mengaku –ngaku miskin, sedangkan masih banyak di luar sana yang lebih miskin.
Setiap mendengar cerita seseorang yang sekolah dan kuliah mendapat beasiswa di dalam Negri maupun luar negri, hatiku ingin menangis.
“Ya Alloh… Kapan aku mendapatkan itu”
Karena aku merasa tidak memenuhi, akhirnya aku pasrah. Setelah lulus SMA, aku meneruskan S1 di perguruan tinggi swasta. Sebenarnya aku minder, melihat teman – teman ku masuk ke kampus elit, tapi aku berusaha mengobati keminderan itu dengan berusaha menjadi yang terbaik di kampus itu, dan Alhamdulillah selesai dengan berbagai kisah indah (baca di sini)
Ketika S1, aku punya impian untuk melanjutkan kuliah setinggi – tingginya. Aku membuat nama aku menjadi 
Prof.Dr.Ngubaidillah A.,S.Pd.I.,M.E.Sy
S.Pd.I gelar Pendidikan Islam setelah aku wisuda S1,
M.E.Sy gelar Magister Ekonomi Syariah setelah S2
Dr gelar setelah s3
Prof gelar setelah menjadi Guru Besar di suatu perguruan tinggi,

Aku tuliskan mimpi itu dimana – mana, bahkan aku membuat setempel buku PUSTAKA PRIBADI

TERNYATA……
Tidak mudah untuk mewujudkan mimpi itu, Apalagi setelah wisuda, berkecamuk pikiranku
AKU HARUS KERJA?
Karena adiku banyak, adiku 7, aku anak pertama, aku harus memikirkan pendidikan mereka…tapi kerja apa?? Ijazahku pendidikan, otomatis menjadi guru honorer yang gajinya sangat tragis, berkisar 200 ribu sebulan.
KAPAN AKU NIKAH?
Dari semester 5 aku udah berjuang untuk menikah, setelah wisuda aku ingin mewujudkan itu.
Atau MELANJUTKAN S2?
Mewujudkan mimpi - ,mimpi yang kutuliskan dulu. Lalu bagaimana dengan biayanya? Subhanalloh, aku semakin bingung setelah wisuda
KERJA atau S2 atau MENIKAH?
Inginku mewujudkan semua itu, Tapi aku hampir pasrah, jangankan semua. Satu pun sangat susah.
ALHAMDULILLAH ALLOHU AKBAR
Aku wisuda bulan Desember 2016, sekarang bulan JULI 2018 Alloh telah mewujudkan itu semua.
Mengenai kerja sudah aku tulis ( baca di sini )
Mengenai menikah juga sudah ( baca di sini )

Nah kali ini aku ingin bercerita bagaimana proses aku mendapatkan beasiswa yang penuh dengan tetesan air mata dalam perjuangan dan pengorbanan
Ketika aku sudah bekerja di perusahaan, dan aku sudah diangkat sebagai karyawan tetap. Aku merasa bahagia sekali. Karena lingkungan kerja yang islami, kerjaanku sangat mudah hampir tidak ada masalah, tidak ada atasan yang mengawasi kecuali Alloh, makanya kerja sambil tidur pun bisa. Udah gitu, gajinya lumayan besar.
Akan tetapi hatiku tetap saja belum puas. Karena apa? Karena ilmu. Hampir setiap kerja, saya membawa buku. Disitu saya membaca dan memunculkan perasaan di dalam hati.
“ya Alloh… aku merindukan saat aku berada di majlis ta’lim, di kelas kuliah, saat aku mendengarkan orang lain memberi ilmu, lalu aku Tanya, lalu kami diskusi tentang ilmu, aku rindu itu, aku rindu bangku kuliah lagi, bukan di sini seharusnya tempatku berada, di sini aku tidak bisa mengaji, diskusi untuk mendapatkan ilmu”
Tumbuh lagi semangat untuk melanjutkan S2, setelah ku melihat lagi stempel di buku Prof. Dr. Ngubaidillah.,.M.E.Sy.  Aku pun bilang ke orang tua, jika saya berniat melanjutkan S2, sontak beliau marah. Saya pun memaklumi, beliau terbayang nantinya harus membiayai saya.
Sehingga saya mencari informasi beasiswa, saya mencari di google. Memang banyak info S2 beasiswa, tapi persyaratannya banyak dan susah. Dan 1 hal yang saya belum punya, yaitu TOEFL. Semua beasiswa S2 selalu menggunakan TOEFL. Setelah berhari – hari aku mencari, akhirnya aku menyerah.
“sudah lah, lupakan beasiswa, sekarang mencari yang biaya terjangkau”
Kemudian saya berganti mencari kampus S2 yang biayanya terjangkau. Aku sudah menemukan IAIN Salatiga, IAIN Nurjati Cirebon, IAIN Tulungagung, UNSIQ Wonosobo, dll. Akan tetapi setelah aku menghitung estimasi biaya selama kuliah, tabunganku tidak cukup. Tabunganku hanya cukup untuk biaya masuk dan semester pertama. Aku menjadi ragu, bagaimana kelanjutan semester 2, 3 dan 4?
Aku semakin galau, berkecamuk. Merasa ingin sekali S2 tapi seakan pintu tertutup rapat. Kalau beasiswa, aku tidak masuk kriteria. Kalau biaya sendiri, tabunganku tidak cukup. Aku pun mengadu kepada Alloh
“ Ya Alloh… aku ingin melanjutkan kuliah lagi di S2. Tapi aku tidak masuk dalam kriteria beasiswa, dan jika biaya sendiri tabungaku tidak cukup. Aku pasrah padamu ya Alloh. Aku sudah tidak punya langkah lagi, kecuali berharap padamu”
Saya sudah tidak mencari informasi beasiswa S2 lagi, tapi aku tetap membaca buku. Tapi juga aku selalu berharap pada Alloh
QADARULLAH – MASYA ALLOH

Saya meneteskan air mata ketika menulis ini, karena aku merasa betapa Alloh tidak pernah menyia-nyiakan harapan dan doa kita. Tepat tanggal 21 Agustus 2017, aku mendapatkan informasi  Beasiswa S2 dari Kementrian Agama. Dan yang paling aku bersyukur, beasiswanya TANPA TOEFL!!!. Sesuai apa yang aku inginkan. Akan tetapi batas waktu pendaftaran 31 Agustus 2017.
Sontak perasaanku campur aduk
  1. Haruskah aku ikut beasiswa?
  2. Lalu aku keluar dari perusahaan?
  3. Sedangkan belum tentu ketika ujian seleksi, aku diterima
Semakin aku bingung. Aku berifikir keras tentang kemungkinan – kemungkinan.
Kemungkinan No. 1, ketika aku tidak ikut beasiswa, lalu aku lama kerja di sini (PT), Sedangkan hati dan pikiranku bukan lagi di pekerjaan, tapi di ilmu. Aku takut jika di akhirat kelak, Alloh akan menyalahkanku, bahwa Alloh telah memberikan jawaban doa untuku, sedangkan aku tidak mengambilnya, karena hanya alasan takut tidak diterima. Aku pun perang batin “bukankah Rasulullah dan sahabat juga mempunyai rasa cemas? Tapi bukan kah Alloh cukup bagi mereka untuk menguatkan?
Kemungkinan No. 2, ketika aku keluar perusahaan, tidak masalah kalau aku diterima beasiswa nya. Tapi bagaimana kalau aku tidak diterima???. Pasti aku akan malu pada orang tua, tetangga dan aku akan merasa bersalah kepada adik – adiku. Aku egois, mengejar mimpi ku, tapi tidak membangun mimpi-mimpi adik – adiku.
Aku pun super galau dalam kebimbangan, kubawa kegalauanku ke setiap doa. Satu – satunya jalan, aku harus meminta petunjuk pada Alloh. Sebelum aku mengambil keputusan, aku sibukkan dengan berdoa dalam shalat wajib, istikharah, tahajud, Duha, dll. Aku meminta pada Alloh agar keputusan yang aku ambil adalah pilihan Alloh, bukan pilihan nafsuku. Sehingga nanti Alloh selalu membimbingku.
Dengan sering mendengarkan ceramah Ustad Hanan, “SIAPA YANG HATINYA YAKIN KEPADA ALLOH, MAKA HATI ITU AKAN DIGENGGAM OLEH ALLOH, DAN KALAU ALLOH MENGGENGGAM HATI HAMBA-NYA, TIDAK MUNGKIN MEMBUAT HATI ITU KECEWA…DIARAHKAN OLEH ALLOH.
Bismillah… la haula wa la quwwata illa billah
   Saya mengambil keputusan KELUAR. Aku sudah siap menerima resiko ketika aku tidak diterima beasiswanya. Tanggal 22 Agustus, aku pamit denga Manajer dan teman – teman kerja.
Aku temui Manajer di tempat kerja, manajer langsung bertanya “bay! Katanya kamu mau S2 ya?
“oh iya pak” walaupun di hatiku sedih, belum tentu diterima
Beliau menjawab “bagus bay, saya dukung itu. Saya juga dulu sebenarnya ingin lanjut kuliah
oke pak terimakasih, minta doanya
Kemudian aku, manajer dan teman – teman foto bersama untuk terakhir kalinya.
Sedangkan teman baiku langsung mengadakan sambutan terakhir untuk melepasku dengan bakar – bakaran ayam. Teman yang menjadi tempat bercanda, diskusi dan tertawa. Usia mereka di atasku, tapi mereka begitu rendah hati. Beliau namanya Pak Santoso dan Pak Sutris. Semoga Alloh memberkahi mereka.

23 Agustus 2018, kakiku meninggalkan KALIMANTAN naik Kapal Laut
24 Agustus 2018, kaki menapakkan di bumi Jawa lagi.
Aku langsung mempersiapkan berkas untuk ikut beasiswa dan aku mengantarkan ke kampus.
Akan diadakan 3 seleksi
  1. Seleksi Administrasi
  2. Seleksi Ujian Tulis ( TPA, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris)
  3. Seleksi wawancara ( baca di sini Tips Wawancara)
Tanggal 9 september 2017, keluar hasil Seleksi administrasi.
SAYA KAGET…
Yang mendaftar berjumlah 50 Mahasiswa dari seluruh Kampus di Indonesia. Dan yang semakin membuatku kecil hati, mereka dari kampus bagus – bagus, kampus negri, apalah aku. Sungguh sempat aku nge-down. Betapa tidak, 49 Mahasiswa adalah orang – orang hebat dan orang – orang solih yang dekat dengan Alloh. Sedangkan yang diterima Cuma 10 !
Aku merasa pesimis sekali, seakan – akan ketakutan yang aku rasakan benar – benar akan terjadi. Yaitu, aku meninggalkan perusahaan, tapi aku tidak lolos beasiswanya. Hancur sudahhhh

LA TAHZAN INNALLOHA MA’ANA
JANGAN KHAWATIR, ALLOH BERSAMAKU yang tidak mempunyai apa – apa, tidak bisa apa – apa.
Bismillah… aku bangkit. Akan aku tunjukan, silahkan mereka pintar, kaya, solih dan sebagainya. Aku andalkan Alloh, karena hanya Alloh yang kupunya.

Seleksi Tulis pada tanggal 14 september 2017 dan seleksi wawancara tanggal 15 September 2017.
Setelah selesai semua tes seleksi, aku kembali lagi seperti sebelumnya. Yaitu melakukan
  1. Ibadah wajib, terutama jama’ah di masjid
  2. Shalat sunnah, terutama Tahajud dan Duha
  3. Do’a di waktu mustajab, terutama di Shalat wajib dan Tahajud
  4. Meminta Ibu untuk mendoakan
  5. Meminta teman – teman solih dan anak yatim untuk mendoakan
  6. Bersedekah
  7. Dan aku berusaha melakukan segalanya sesuai tuntunan Rasulullah untuk menyempurnakan ikhtiarku, untuk menyempurnakan segala kekuranganku.
Hasil seleksi akan diumumkan hari Ahad, tanggal 17 September 2017. Dalam berharap cemas, aku bersama temanku yang solih bernama Musabbiqul Fikri ( semoga Alloh selalu merahmatinya ) pergi ke Sekertariat PB HMI, Jakarta Selatan dengan mengendarai motor pada 15 september setelah selesai ujian wawancara.

Kenapa aku kesana?
Karena aku mau menyambut pengumuman hasil seleksi di Jakarta. Jika seandainya aku tidak diterima, aku bisa menghibur diri dengan keindahan kota Jakarta.
Di hari ahad aku ketemu dengan ketemu sahabat baiku, Salman Al Farisi ( semoga Alloh selalu merahmatinya), yang kebetulan di Jakarta juga. Di pagi hari, aku membuka website belum keluar juga pengumumannya. Berkali – kali aku membuka tidak kunjung keluar juga, membuatku semakin cemas.

Akhirnya kami bertiga shalat jama’ah Dzuhur, aku mau berdo’a untuk terakhir kalinya sebelum membuka pengumuman. Setelah berdoa, aku membuka HP, lalu kubuka website.
SUBHANALLOH… sudah keluar pengumumanya!. Lalu aku download, betapa cemasnya hatiku, hati dan bibirku berdzikir. Setelah kubuka pengumumannya….
ALLOHU AKBAR
Aku sujud syukur
Kuteriakkan Takbir
Kupeluk temanku
Salman pun bingung ada apa, Fikri menjelaskan ke dia jika aku mendapatkan pengumuman Seleksi Beasiswa S2.
Aku terharu..
Aku ingin menangis
Betapa tidak… aku tidak hanya diterima sebagai 10 mahasiswa penerima beasiswa S2 dari Kementrian Agama RI 2017-2019. Tapi Alloh memberi lebih dari yang kupinta, yaitu Dari 50 Mahasiswa pendaftar se – Indonesia. Saya PERINGKAT 1
Alloh sangat mencintai kita, kita yang sering lupa pada Nya. Kita sering mengandalkan akal kita, harta kita, kekuatan kita. Alloh pun nomor sekian.
Padahal Alloh lah yang mengatur semuanya
Impianku dari dulu yang hampir putus asa aku mendapatkannya, akhirnya QADARULLAH, Alloh mewujudkannya
SUBHANALLOH, WAL HAMDULILLAH, WA LA ILAAHA ILLALLOH.
Ini bukan aku yang hebat, tapi Alloh yang memudahkan dengan do’a orang tuaku dan orang – orang solih di sekitarku.
nilai beasiswa nya pun sangat banyak. alhamdulillah bisa buat modal nikah, modal bisnis, dan memasukan adik ke kuliah... masya Alloh.

Wahai saudaraku…
Mari kita selalu libatkan Alloh di setiap impian kita. Jangan kan kemewahan dunia, Surga saja yang seluasnya langit dan bumi  telah dijanjikan untuk kita. Apalagi hanya beasiswa
Akhir kata… saya mohon doa antum, agar Alloh mengampuniku, dan mewujudkan impianku selanjutnya... yaitu menjadi wisudawan terbaik dan melanjutkan beasiswa S3, dan yang terpenting agar ilmunya berkah
Ya Alloh.. ampunilah dosa saudaraku yang sedang membaca ini, berilah dia beasiswa di Dunia, dan Akhirat
Sekian dariku… dari hamba Alloh yang penuh kekurangan dan dengan iman, Alloh menyempurnakan
Wallohu a’lam
Kebumen, 3 Juli 2018
Ngubaidillah,M.Pd

Berlangganan via Email