Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

TIPS UNTUK AKHWAT: CARA MENDEKATKAN JODOH


Bismillah
Allohumma shalli ‘ala Muhammad, amma ba’du

Tidak bosan-bosanya saya share tentang pernikahan, karena ternyata lebih banyak pemuda - pemudi Islam yang lebih memilih jalan yang diharamkan, yaitu pacaran. padahal dampak dari pacaran terasa di dunia sampai akhirat, na'udzubillah. setelah pada artikel sebelumnya saya berbagai tips melamar bagi laki-laki atau ikhwan ( klik di sini ), sekarang saya ingin berbagi tips kepada akhwat atau perempuan.
apa saja sih langkah bagi akhwat dalam mengakhiri penantian dengan pernikahan menurut islam?
1.  Jangan Bermuluk-Muluk, yang Penting Agamanya
Sebagian orang menentukan kriteria bahwa jodohnya harus yang seperti ini dan itu. Gengsi, kata mereka, jika harus menikah dengan 'ikhwan pengajian' (laki-laki muslim yang rajin menyimak majelis ta'lim, Red.) yang papa, belum punya pekerjaan tetap, belum punya rumah, dan rezekinya pas-pasan. Maka kami nasihatkan, buang jauh-jauh prinsip materialisme!! Pilihlah suami (atau istri) yang shalih dan bagus agamanya. Pasangan yang shalih akan memuliakan istri (atau suami) yang dicintainya dan tidak akan menghina istri (atau suami) yang dibenci (kurang disukai)nya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ
"Apabila seorang yang engkau ridhai agama dan akhlaknya datang kepadamu (untuk melamar perempuan yang ada di bawah perwalianmu, Red.) maka nikahkanlah dia. Kalau engkau tidak melakukannya, akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi." (HR at-Tirmidzi: 1085, Ibnu Majah: 1967, dan al-Hakim 2/164)
Keshalihan pasangan akan menjadi penyejuk mata di dalam rumah tangga. Perhatikanlah diri Anda sebelum menentukan kriteria jodoh yang Anda inginkan!!
Dan satu tips lagi, untuk mengetahui agama seorang pria, lihatlah kapan dan dimana dia melakukan shalat subuh. Kalau dia shalat subuhnya jam 7, tidak perlu dipilih. Tapi kalau shalat subuhnya di masjid berjamaah, pilih lah dia. Kenapa? Karena shalat subuh apalagi di masjid, adalah hal paling berat.

Jadi ketika seorang pria mampu melawan nafsu ngantuknya demi menunaikan hak Tuhannya, Insya Alloh dia kelak akan selalu menunaikan hak mu sebagai istri.

2.  Tidak Memberatkan Dengan Mahar yang Mahal
Sebab, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مِنْ يَمْنِ الْـمَرْأَةِ تَسْهِيْلُ أَمْرِهَا وَقِلَّةُ صَدَاقِهَا
"Termasuk kebaikan dan keberkahan wanita, mudah dalam urusannya dan ringan dalam maharnya." (HR al-Hakim 2/181, Ibnu Hibban: 1256, al-Bazzar: 2/158, dan al-Baihaqi 7/235)
Yakinkan kepada calon suamimu, tidak perlu memikirkan mahar, saya siap dengan mahar apapun. Yang paling penting berilah saya yang lebih mahal dari mahar, yaitu temani saya sampai ke ujung surge bersama anak keturunanku.
Karena Fatimah Az Zahra saja yang tidak hanya menjadi putri presiden, tapi putri dari makhluk nomor 1 yang paling dicintai oleh Alloh, ternyata menikahnya hanya bermaharkan baju perang. 

3.  Minta Bantuan Orang Tua, Kerabat, dan Teman
Bukanlah aib jika Anda meminta bantuan orang tua, kerabat, atau teman agar mencarikan jodoh yang cocok dengan Anda. Seorang laki-laki shalih berkata kepada Nabi Musa عليه السلام:

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ
Berkatalah dia, "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anak gadisku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun." (QS al-Qashash [28]: 27)
Al-Imam al-Qurthubi رحمه الله berkata, "Ayat ini merupakan dalil bahwa seorang wali boleh menawarkan putrinya kepada seorang laki-laki. Ini adalah sunnah yang tetap." (Tafsir al-Qurthubi 13/179)
Umar ibn al-Khaththab رضي الله عنه pernah menawarkan putrinya, Hafshah رضي الله عنها, kepada Utsman ibn Affan رضي الله عنه kemudian kepada Abu Bakr رضي الله عنه. Abu Bakr رضي الله عنه berkata kepada Umar رضي الله عنه "Barangkali engkau marah kepadaku ketika aku sama sekali tidak memberikan jawaban terhadap tawaranmu." Umar رضي الله عنه menyahut, "Ya." Abu Bakr رضي الله عنه berkata lagi, "Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku menerima tawaranmu, melainkan karena aku mengetahui bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah menyebut Hafshah. Aku tidak ingin menyebarkan rahasia Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Andaikan Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak jadi (menikahi Hafshah), niscaya aku akan menerimanya." (HR al-Bukhari: 3783)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Hadits ini menerangkan bahwa seorang insan hendaknya menawarkan putrinya atau yang lain kepada orang yang dia nilai baik dan shalih. Sebab, di dalamnya, terdapat kebaikan yang akan kembali kepada orang yang ditawarkan. Tidak ada (gunanya) rasa malu dalam perkara ini. Dan juga hadits ini menunjuk-kan bolehnya memberikan tawaran kepada orang yang sudah menikah karena Abu Bakr رضي الله عنه ketika itu sudah beristri." (Fathul Bari 9/178)

4. Menawarkan Diri Kepada Orang yang Shalih dan Baik
Tidak usah malu ukhty, apalagi gengsi. Karena laki – laki shaleh pasti diperebutkan. Memang dalam adat kita, wanita dicari. Tapi di dalam Islam tidak melarang wanita juga ikut mencari. Sebagaimana yang dilakukan Khadijah, beliau berani P-D-K-T duluan ke Rasulullah, padahal beliau adalah wanita cantik, kaya raya, tapi tidak gengsi. Karena keberanian beliau lah, akhirnya mendapatkan suami yang paling istimewa dunia akhirat, yaitu Muhammad bin Abdullah.
Boleh seorang wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki yang dia nilai shalih dan bagus. Anas ibn Malik رضي الله عنه berkata:
"Seorang wanita datang menemui Nabi صلى الله عليه وسلم untuk menawarkan dirinya. Wanita itu berkata,'Wahai Rasulullah, apakah Anda ingin menikah dengan saya?" Putrinya Anas berkata, 'Sungguh tidak punya malu, tidak punya malu!' Anas berkata, 'Dia lebih baik darimu, ingin menikah dengan Nabi صلى الله عليه وسلم, lantas menawarkan dirinya langsung kepada Nabi صلى الله عليه وسلم.'" (HR al-Bukhari: 5120)
Al-Imam an-Nawawi رحمه الله berkata, "Dianjurkan agar seorang wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki yang shalih supaya menikahinya." (Syarh Shahih Muslim 9/320)

Peringatan:
Dalam hal menawarkan diri ini, sebagusnya diwakilkan kepada mahramnya. Seperti kepada ayah, kakak, paman dan sebagainya. Jadi wahai ukhty, bila ada ikhwan yang shalih atau rajin shalat subuh di masjid, mintalah kepada mahram untuk menawarkan diri antum. Tidak usah malu, karena shahabiyah Rasulullah juga ada yang melakukan.

Jangan disalah artikan dengan menawarkan diri dengan merendahkan diri. Seperti tiba-tiba sms atau inbok atau japri via WA, lalu menawarkan diri ke ikhwan. Jangan ukhty, itu merendahkan diri.

5.  Tawakkal Sambil Terus Berusaha
Jika usaha Anda sudah maksimal maka serahkanlah urusan jodoh ini kepada Allah. Orang yang bertawakkal dan bertaqwa akan diberi jalan kemudahan. Allah عزّوجلّ berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
"Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disang-ka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS ath-Thalaq [65]: 2-3)

6.  Berdo'a
Mintalah kepada Allah عزّوجلّ dengan penuh perendahan diri agar Allah menganugerahkan kepada kita jodoh yang cocok. Mohonlah terus kepada Dzat yang Maha Kuasa ketika jodoh tak kunjung datang. Jangan putus asa dalam berdo'a. Jangan berpra-sangka buruk kepada-Nya. Berbaik sangkalah kepada Allah. Insya Allah, perkara yang sulit akan menjadi mudah. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda (dalam hadits qudsi):

أَنَا عِبْدَ حُسْنِ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ فَلْيَظَنُّ بِيْ مَاشَاءِ، إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ وَإِنْ شَرًّا فَشَرٌّ
(Allah عزّوجلّ berfirman,) "Aku menuruti sangkaan baik para hamba terhadap-Ku. Hendaklah ia berpraduga terhadap-Ku sekehendaknya; jika baik (sangkaannya) maka akan baik jadinya, dan jika buruk (sangkaannya) maka akan buruk jadinya." (HR ath-Thabarani dalam al-Ausath: 8115, Ibnu Hibban: 639, Abu Nu'aim 9/306)
Mengenai berdoa, sudah saya bahas panjang mengenai waktu dan tempat agar doa kita dikabulkan (klik di sini)
Oh iya, sekarang kan bulan puasa. Berdo’alah yang sungguh-sungguh, agar Alloh menjadikan bulan puasa tahun depan tidak jomblo lagi.

7. Sambil berdoa dan ikhtiar, cari lah ilmu tentang pernikahan
wahai sauadaraku, banyak sekali yang berkeluarga, akan tetapi tidak seharmonis yang diharapkan. bahkan keluarga di dunia ini, belum tentu menjadi keluarga di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath Thuur: 21)
jadi, syarat agar sebuah keluarga kumpul kembali di surga adalah dalam satu keimanan. sedangkan untuk memupuk itu, dibutuhkan lah ilmu. maka dari itu, wahai saudaraku, marilah menikah tidak hanya mengedepankan nafsu syahwat, tapi juga iman dan ilmu.
pelajari dulu ilmu tentang:
1. tata cara bertaaruf
2. sah, rukun dan batalnya akad pernikahan
3. tentang Talak/perceraian, dzihar, khuluk, dsb
4. tentang suami dan istri yang Rasulullah ajarkan
5. tentang parenting (pengasuhan anak) yang sesuai ajaran Rasulullah
jadi dengan seperti itu, ketika menikah sudah siap semua ilmunya, hanya tinggal mengamalkan. 
terakhir, saya doakan semoga Alloh mempertemukanmu dengan jodoh yang Alloh ridhoi, yg akan menurunkan keturunan solih dan soliha.
saya juga minta doanya, Alhamdulillah telah lahir anak kami, 18 April, dg nama ABDURRAHMAN Mohon doanya agar menjadi pemuda yg sesolih dan sekaya Sahabat Rasulullah Abdurrahman bin Auf.
Wallohu a’lam
Bandung Barat , 6 Juni 2018/21 Ramadhan 1439H
Ngubaidillah, M.Pd

Referensi :
Majalah Al-Furqon No.156 Ed.9 Th.ke-14_1436H

Berlangganan via Email