Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pesan Ir.Soekarno : untuk Generasi Muslim Milenial



Saya tidak menyangka dengan pemikiran soekarno terkait Islam. Sepengetahuan saya, Soekarno adalah tokoh Nasionalis yang tidak dapat ditawar lagi. Bahkan ada yang mengatakan soekarno biarpun beragama Islam, Islamnya abangan.  Hal ini diperkuat dengan sejarah kelahiranya yang dikelilingi dengan budaya sinkretisme.
            Dengan cita-citanya menggabungkan Ideologi Nasionalis-Agama-Komunis (NASAKOM), Soekarno bila tampil di hadapan public, laksana pemimpin Muslim yang religious, juga pemimpin bangsa yang nasionalis dan juga bila berbicacara tentang komunis, dia terlihat sebagai marxis sejati.
            Saya di sini bukan mendukung cita-cita Bung Karno tentang Nasakom, apalagi komunis. Saya hanya mengambil pemikiran Bung Karno terkait Islam. Selama ini saya mengamati kondisi Islam sebagai Institusi Keagamaan, Istitusi Sosial, Institusi Ekonomi, Institusi Pendidikan mengalami berbagai kehancuran. Jika tidak terlalu etis dikatakan kehancuran, maka bisa dihaluskan dengan kata “ketertinggalan”. Tertinggal dengan agama yang justru dulu di bawah kekuasaan Islam, yaitu Kristen dan Yahudi.
            Ternyata apa yang di pikiran saya selama ini, juga dirasakan oleh Ir Soekarno.
Berikut saya cuplikan beberapa tulisan Soekarno, yang berupa surat – menyuratnya dengan A. Hassan (Tokoh PERSIS) ketika soekarno mengalami penahanan di Endeh, Flores.

Endeh, 26 Maret 1935
Dunia Islam mundur oleh karena banyak orang Islam yang menjalankan hadits dha’if dan palsu. Karena hadits – hadits demikian, Islam diliputi oleh kabut-kabut, kekolotan, ketakhayulan, bid’ah dan anti-rasionalisme. Padahal taka da agama yang lebih rasional dan simplistic dibanding Islam.
            Dugaan terkuat saya, mata rantai kemunduran Islam yaitu; taklid yang membelenggu roh dan semangat Islam, hilangnya roh dan semangat Islam mengakibatkan tertutupnya pintu Ijtihad. Hal ini disebabkan dengan maraknya hadits palsu dan dhaif yang dipublikasikan.
            Maka dari itu, sudah sebaiknya umat islam mulai sekarang jangan mudah percaya dengan hadits-hadits yang beredar. Perlu diadakan crosscheck untuk mencari derajat hadits itu.

Endeh, 17 Juli 1935
Di Endeh, tak ada seorang pun yang dapat saya tanyai. Karena hampir semuanya kolot bin kolot. Ada satu-dua yang punya pengetahuan agama Islam, akan tetapi pengetahuannya tidak dapat keluar sedikitpun dari “kitab fiqih”. Mati hidup dengan kitab fikih yang menjadikan mereka taklid. Qur’an dan Api Islam seakan mati, karena kitab fiqih itulah yang menjadi pedoman hidup, bukan firman Alloh sendiri.
             Jika dipirkan lebih mendalam, kitab fiqih itulah yang menjadi “algojo” di dalam masyarakat. Masyarakat yang demikian akan segera menjadi masyarakat “mati”, masyarakat “bangkai”. Makanya dunia Islam kini setengah mati, tidak punya Roh, tidak ada semangat. Karena tenggelam dalam kitab Fikih, tidak terbang seperti garuda di atas udaranya Agama yang hidup.

Endeh, 14 Desember 1936
Permasalahan Taqlid adalah hal terpenting bagi umat Islam pada umumnya. Sebab faktor utama kemunduran Islam adalah maraknya taklid. Dimana akal dan fikiran dibelenggu, disitulah datang kematian.
Salah satu penyebab terjadinya taklid adalah buta sejarah. Umumnya tokoh Islam tidak mempunyai “feeling” terhadap sejarah. Padahal sejarah Islam sangat kompleks, dari permasalahan fikih, teologi, filsafat, matematika, kimia, fisika dan sebagainya. Akan tetapi, mereka (tokoh islam.red) hanya mempunyai minat pada agama khusus, yaitu fiqih. Jika pun mereka memahami sejarah, hanya mengenai “tarikh islam” saja yang tidak tahan uji dengan ilmu pengetahuan modern.
Sejarah ini lah yang selama ini diabaikan, mengakibatkan mereka dalam keadaan taklid. Dunia Islam laksana bangkai yang hidup, semenjak ada anggapan bahwa pintu ijtihad adalah wilayah yang  terlarang. Seolah mustahil ada mujtahid baru yang melebihi “imam empat”.
Sudah seyogyanya tokoh agama kita mempelajari sejarah Islam secara komprehensif, tidak hanya hidup-mati, bangun-tidur dengan kitab fikih saja.

Endeh, 22 April 1936
Tentang pesantren, kalau saya boleh mengusulkan : hendaklah ditambah “Pengetahuan Barat” yang dikasihkan santri. Saya sangat menyesalkan umat Islam terutama tokoh-tokoh agama kurang sekali akan pengetahuan ilmiah. Walaupun yang bergelar “mujtahid” dan “ulama” sekalipun, masih banyak sekali yang mengecewakan pengetahuan ilmiahnya.
Saya tahu, pesantren bukanlah universitas, tapi alangkah baiknya kalau pengetahuan ilmiah ditambahkan. Demi Alloh “ilmu Islam” tidak hanya pengetahuan Qur’an dan Hadits semata. Ilmu Islam adalah Qur’an dan hadits plus Pengetahuan Umum atau ilmiah.
Karena pengetahuan ilmiah justru menjadi jalan untuk memahami Qur’an dan Hadits. Sebagai contoh, bagaimana mungkin manusia dapat memahami ayat tentang segala sesuatu tercipta “berpasangan” kalau tak mengetahui biologi, tak mengetahui electron, tak mengetahui positif dan negative, tak mengetahui aksi dan reaksi.
Bagaimana mungkin seseorang akan memahami ayat “kamu melihat dan menyangka gunung-gunung itu benda keras, padahal semua itu berjalan seperti awan” kalau tak memahami ilmu geografi dan geologi. Dan ayat “sesungguhnya langit-langit itu asalnya serupa zat yang satu, lalu kami pecah-pecah dan kami jadikan barang yang hidup dari air” kalau tidak memahami ilmu astronomi.
Saya sangat yakin, Islam tak akan bersinar kembali selama orang islam masih mempunyai “sikap hidup” secara kuno, yang menolak setiap “ke-Barat-an” dan “kemodernan”. Semua ini justru diperintahkan Alloh dalam Qur’an dan Hadits.
Silahkan ditanyakan kepada ribuan orang Eropa yang masuk Islam di abad ke-20 ini, “dengan cara apa” dan “dari siapa” mereka mengetahui sehingga masuk islam. Dan mereka tidak akan menjawab : bukan dari guru-guru yang hanya menyuruh “beriman” dan “percaya”, bukan dari mubaligh-mubaligh yang wajahnya angker dengan memainkan tasbihnya. Mereka masuk islam justru dari mubaligh-mubaligh modern yang mempunyai pengetahuan ilmiah.
Percayalah, jika islam dipropagandakan dengan cara yang masuk akal dan up to date, seluruh dunia akan sadar akan kebenaran Islam. Saya sendiri sebagai seorang terpelajar baru mengapresiasi Islam setelah membaca buku-buku Islam yang modern dan scientific.
Apa sebabnya kaum pelajar atau kaum muda Indonesia tidak tertarik mempelajari Islam? (lihat saja, lebih banyak mana yang di sekolah daripada di pesantren). karena Islam tidak mau membarengi zaman dan karena salahnya orang-orang yang memprogandakan Islam : mereka kolot, ortodoks, mereka anti pengetahuan dan memang tidak berpengetahuan, tahayyul, jumud menyuruh orang untuk bertaklid saja, menyuruh orang yang penting “manut/percaya”
Apakah saya anti-taklidisme? Bagi saya anti-taklidisme itu berarti tidak hanya “kembali” ke Qur’an dan Hadits, tetapi kembali ke Qur’an dan Hadits dengan mengendari “pengetahuan umum/ilmiah”

Endeh, 17 Oktober 1936
Di dalam surat ini tampak perubahan jiwa saya -dari jiwa yang islamnya hanya meraba-raba saja menjadi islam yang yakin, dari jiwa yang hanya mengetahui adanya Tuhan tapi belum mengenal Tuhan menjadi jiwa yang sehari-hari berhadapan dengan Dia, dari jiwa yang banyak filsafat ke.Tuhan.an tetapi belum mengamalkan ke.Tuhan.an menjadi jiwa yang sehari-hari wajib menyembahnya. Saya wajib berterimakasih kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memperbaiki jiwa saya.
Beberapa waktu lalu ada seseorang yang heran dengan perubahan saya yang cenderung menjadi “penggemar islam”. Sebenarnya hal ini bukan lah mengherankan, karena saya dulu anggota Sarekat Islam yang kemudian menjadi Partai Serekat Islam. Kemudian saya meninggalkan PSI, bukan karena saya benci dengan Islam, tapi karena saya tidak sepakat 100% dengan partai itu.
Jika dulu saya kadang-kadang mengeluarkan ucapan-ucapan yang terkesan anti-islam, juga terkadang saya bertengkar dengan pihak Islam, itu bukan berarti saya menentang Islam sebagai Islam. Tapi hanya karena say tidak senang melihat keadaan – keadaan di kalangan ummat Islam.
Berkat pertolongan Allah dan pertolongan tuan dan orang lain, saya sudah lebih bulat dan lebih yakin dengan keislama. Saya malah sekarang mempunyai perasan miris melihat keadaan ummat Islam yang menentang Allah dan Rasulullah. Yaitu dengan mengokohkan taqlidisme sehingga Islam hanya terkesan sebagai “agama sorba” dan “agama celak”.
Tak usah heran jika kaum kolot mengatakan saya sebagai “anti – islam”, “murtad dari ahlussunah wal jama’ah”. Biarlah, suatu saat nanti akan  terbukti bahwa kaum muda tulus dan ikhlas mengabdi kepada kebenaran atau kepada Tuhan.
Suatu saat nanti akan terbukti, bahwa kita bukan “mengubah hukum-hukum Allah dan Rasulullah”, tapi justru mengembalikan agama yang asli dan mengindahkan hukum – hukum Allah dan Rasulullah.
Biarlah, karena di sejarah belum pernah tertulis revolusi yang tidak mendapat perlawanan dari kaum jumud. Belum pernah tertulis dalam sejarah bahwa suatu pergerakan yang akan membongkar ideology dan adat yang salah, pasti akan mendapat perlawanan dari pihak jumud yang membela adat dan ideology tersebut.
Silahkan kaum muda bekerja terus. Tapi sampai terjadi perpecahan dan permusuhan satu sama lain di kalangan ummat Islam. Jangan sampai melanggar Allah akan “berpegang kepada agama Allah dan jangan bercerai berai”
Soekarno
Di Bawah Bendera Revolusi

Demikian cuplikan intisari dari surat Ir. Soekarno. Saya bisa mengambil beberapa kesimpulan, kondisi ummat Islam di zaman dulu ( yang memang masih melekat di zaman sekarang) sehingga menjadi penyebab Islam tertinggal oleh Eropa, Amerika, Asia bahkan Australia. Diantara penyebabnya menurut Soekarno yaitu :
1.      Banyaknya hadits dha’if  bahkan hadits palsu yang beredar.
Kalangan tokoh Islam seperti kyai – kyai lebih mudah dalam menjual hadits dhaif bahkan palsu. Sehingga banyak tradisi dan adat yang diyakini sesuai dengan Islam tapi tidak logis.
2.      Kuatnya sikap taqlid
Dilanjutkan oleh generasi setelahnya yang dengan mudah mengikut kepada nenek moyang, tanpa mempertanyakan keabsahan suatu informasi atau tradisi. Karena sudah menguatnya prinsip taklid, yaitu mengikut tanpa dasar
3.      Dominasi kitab fikih dalam masyarakat
Kitab fikih yang menjadi hakim di masyarakat dengan se enaknya menghakimi ini halal, itu haram. Tanpa melibatkan hukum jaiz atau ibahah. Sehingga pemikiran masyarakat tidak berkembang
4.      Jauhnya pesantren dengan Pengetahuan Ilmiah
Pesantren zaman dulu dan sekarang ternyata tidak beda jauh, identic dengan sarung dan rokok. Masih sama persis kolotnya. Karena kuatnya sikap taklid dalam kalangan santri, sehingga sangat jauh dari pengetahuan umum dan ilmiah. Biarpun di zaman sekarang sudah banyak sekolah formal di dalam pesantren, tapi kekolotanya masih sangat kuat. Belum bisa diajak berfikir ilmiah. Yang ada pola pikirnya harus sesuai dengan kitab klasik. Pokonya kalau tidak madzhab syafi’I salah, tidak sah, haram.

Kemudian di akhir surat, Soekarno menceritakan perjalanan beliau dalam berislam sehingga berakhir dengan mantap keislamanya melalui dengan proses berfikir
Beliau juga berpesan untuk kita sebagai generasi zaman now, untuk berjuang mengembalikan agama Allah yang asli sesuai Qur’an dan Hadits tanpa menjadikan perpecahan dan permusuhan di kalangan ummat.
           
Ya Alloh ampunilah pejuang Islam di negri ini, Angkatlah derajat Soekarno dan pahlawan-pahlawan Indonesia yang Muslim seprti derajat para sahabat dalam membela ajaran Rasulullah. Dan jadikanlah kami sebagai generasi mujahid yang menegakkan ajaranmu melalui kapasitas kami dalam berbagai profesi kami. Hindarkan lah kami dan bangsa kami dan agama kami dari golongan penghianat, mafia ayat dan hukum, koruptor.  Luruskan pula Negara kami yang telah jauh dari Konstitusi Bangsa dan Konstitusi Agama.
                        Aamiin… wallohu a’alam

Berlangganan via Email